Sunshine Blogger Award

Park SooHyun telah menominasikanku untuk Sunshine Blogger Award. Terima kasih banyak, Park SooHyun, dan selamat atas pencapaiannya. Karena itu, aku juga akan berusaha lebih baik lagi dalam mengelola blog.

https://jalanjalanfotofoto.files.wordpress.com/2017/05/sun-e1496796801429.jpg?w=634

Aturan:

  1. Terimalah orang yang menominasikan Anda dalam posting blog dan link kembali ke blognya.
  2. Jawablah 11 pertanyaan yang diberikan oleh orang yang menominasikan Anda.
  3. Nominasikan 11 blog baru untuk menerima penghargaan dan tuliskan 11 pertanyaan baru.
  4. Cantumkan peraturan dan tampilkan logo Sunshine Blogger Award di post Anda (bisa copas gambar di atas).

Dan ini pertanyaan yang diberikan padaku beserta jawaban yang kuberikan:

  1. Siapa nama pena kalian?
  • Sebenarnya, aku belum bisa menentukan nama pena yang cocok buatku, berhubung aku belum terlalu serius memikirkan nama pena karena nggak tahu juga mau kupakai buat apa. Untuk sekarang, panggil saja Neko/Nekochan.
  1. Siapa idola kalian?
  • Arashi dan Isayama Hajime-sensei.
  1. Lebih suka dimotivasi atau memotivasi?
  • Keduanya. Tapi kalau memang disuruh memilih, aku lebih memilih memotivasi orang lain.
  1. Apa hal yang sering menjadi bahasan di blog kalian?
  • Hal-hal yang menjadi kesukaanku dan segala sesuatu berbau Jepang.
  1. Sudah berapa lama ngeblog?
  • Kurang lebih 6 bulan, tapi baru muncul niat ngeblog tahun 2017, jadi masih benar-benar pemula.
  1. Apakah kalian lebih suka membaca buku dibanding menonton film?
  • Lebih suka nonton film.
  1. Punya Instagram kah?
  • Maaf, aku nggak punya.
  1. Apa kalian suka mengarang cerita?
  • Ya, aku suka. Baru-baru ini aku tertarik dengan kegiatan yang satu ini, sampai sekarang aku masih belajar mengarang cerita.
  1. Apa kalian suka anime/drama/film western?
  • Anime lumayan suka. Untuk drama aku suka J-drama. Ketertarikanku pada film Hollywood akhir-akhir ini menurun.
  1. Sebutkan peristiwa tak terlupakan sepanjang hidup!
  • Memberi coklat pada orang yang aku suka di Hari Valentine, walau sekarang perasaan suka itu sudah hilang.
  1. Ada yang punya informasi tentang beasiswa di luar negeri?
  • Maaf, aku nggak punya.

Berikut ini 11 pertanyaan yang kuberikan untuk nominasi baru:

  1. Apa suka duka jadi blogger?
  2. Apa saja pencapaian kalian selama ngeblog (misalnya jumlah viewers, atau award semacam ini)?
  3. Bagaimana awal mula terciptanya blog kalian (alasan kalian ingin mengelola blog)?
  4. Siapa idola/sosok yang menginspirasi kalian?
  5. Apa saja hal-hal yang menjadi favorit kalian (misalnya buku, hewan, makanan, kegiatan, apa saja)?
  6. Adakah keinginan yang belum tercapai/ingin dicapai?
  7. Adakah hal yang telah dicapai dan menjadi suatu kebanggaan?
  8. Bagi kalian, sebenarnya apa itu blog?
  9. Adakah harapan untuk blog kalian kedepannya?
  10. Bagaimana pendapat kalian tentang blog Watashi no Sekai ini?
  11. Pesan untuk para blogger pemula?

Berikut ini adalah nominasi baru yang kupilih:

  1. shiq4
  2. D. Y. F
  3. cinta1668
  4. Grant
  5. Ikha
  6. Nur Irawan
  7. arisnohara
  8. Desfortin
  9. dikasukma
  10. Suci Su
  11. febriminato

Dan pada akhirnya… aku nggak tahu setelah ini apa yang harus aku lakukan. Apakah setelah itu aku harus memilih mana diantara sekian blog dengan jawaban yang terbaik (karena biasanya penghargaan seperti itu kan?), aku nggak tahu. Anggap saja ini untuk senang-senang, tapi aku akan sangat berterima kasih kalau semua yang kupilih bisa mengikuti award ini. 🙂

Selamat bagi yang terpilih! I’m looking forward to it.

Eat Japanese Dish!

Konnichiwa minasan ^-^ hari ini aku dan SooHyun makan siang di Japanese Resto, dalam rangka merayakan ultahnya Ninomiya Kazunari hahaha… (bercanda ding :v)

Ini bukan kali pertama sih Neko makan Japanese dish, berhubung belum pernah cerita jadi aku ingin menceritakannya, yey!

Oh iya sebelumnya Neko minta maaf bagi yang sedang berpuasa (btw ini peringatan karena di post ini akan menampilkan berbagai makanan, jadi kalau ada yang nggak mau baca silakan tutup halaman ini :v)

Awalnya waktu belum pernah ke tempat ini, aku membayangkan seperti apa restoran Jepang itu. Ada temanku yang sering datang ke sini, jadi penasaran dan akhirnya coba. Nah waktu pertama kali datang ternyata nggak seperti yang kubayangkan, soalnya dulu yang ada dipikiranku semua yang ada di resto ini berbau Jepang (sampai musiknya segala haha…), dan ternyata ini hanya resto sederhana, dengan menu yang nggak terlalu lengkap juga karena dulu yang ada dipikiranku di sini ada takoyaki* dan ikizukuri* :v tapi nggak mungkin ya resto sesederhana ini menyediakan ikizukuri 😄

Seperti ini suasana resto

wp-image--1910226068

Memotret secara diam-diam. Tadi sempat panik juga karena flash-nya lupa dimatiin 😂

wp-image-1857642993

Sepi karena bulan puasa

 

 

 

 

Dan… ini adalah menu yang kami pesan!

wp-image-387214874

Salmon Nigiri, agak susah juga ngambilnya karena nasinya memang bukan dari beras Jepang, jadi nggak bisa nempel

 

Chicken Steak Barbeque, tampilannya jadi agak aneh karena SooHyun terlalu banyak memberi saus tomat

Orenji juusu (jus jeruk)

Dan jus alpukat!

Sebenarnya tadi juga pesan siomay tapi lupa dipotret 😂

Hai, aku hanya ingin berbagi itu saja. Semoga suatu saat nanti bisa merasakan makanan di negara asalnya hahaha… 😂

Gochisousamadeshita!

*takoyaki: snack terbuat dari tepung terigu, biasanya di dalamnya berisi gurita

*ikizukuri: sashimi berkualitas tinggi dan berkelas, menyajikan ikan segar yang masih hidup

Curhat Masalah WordPress #1

Tadaima! Maaf baru bisa aktif sekarang karena setelah UKK berakhir, Neko masih harus membuat laporan dan sebagainya. Tapi yokatta sekarang tulisan ini bisa nongol lagi di halaman web ini, hohoho…

Ada yang mau kusampaikan. Setelah membaca post tentang cara disukai blogger lain dari blognya kak Shiq4, Neko memutuskan untuk menjadi diri sendiri 😂 Kalau menurut dari apa yang telah kubaca dari artikel tersebut, “menampakkan diri” terdengar seperti “menjadi diri sendiri” bagiku. Karena ya, selama ini aku menyembunyikan karakter asli dari diriku sendiri ketika tulisanku muncul di blog. Jadi selama menulis, aku… ano… memakai bahasa yang berbeda dari yang kupakai biasanya. Ah itu menurut pemahamanku ya, entah juga kalau ternyata artikelnya mau menyampaikan maksud yang berbeda hehe…

Sebenarnya aku bermasalah dengan pemakaian kata ganti, tentang memakai ‘saya’, ‘aku’, atau ‘gue’, manakah yang lebih nyaman dibaca. Dan… lebih nyaman kutulis. Kalau sebelum-sebelumnya Neko pakai ‘gw’, mulai kali ini Neko akan pakai ‘aku’. Nggak tahu juga sih kenapa dulu pinginnya pakai ‘gw’ 😂 Ya… masalahku ini seperti yang pernah dibahas salah satu post di blognya kak Firman.

Neko juga suka pakai emotikon yang nggak penting 😂 (seperti sekarang ini).

Nah sebenarnya yang mau aku bahas kali ini… apa ya :v (bingung sendiri) ini seperti yang aku alami ketika menghadapi blogger lain di WordPress. Ahh bingung jelasinnya >,< ya udah deh lanjut aja daripada minasan ikutan bingung 😅

  1. Kasih komentar nggak ya?

Aku masih pemula, benar-benar masih pemula. Kadang aku masih bingung menyesuaikan isi post dengan pembaca yang biasa berkunjung. Karena yang biasa berkunjung ke blog ini adalah mereka yang sudah memiliki blog selama beberapa tahun lamanya. Ya, aku pernah cerita. Minasan, kalian ini… Tampak begitu profesional di mataku!! (hey, biasa aja ngetiknya -_-)

Aku suka membaca tulisan kalian. Dengan senang hati aku mau mendapat pengetahuan baru. Tapi… Bahasanya itu lho, “pro” banget! Masalahnya adalah… Terkadang aku nggak ngerti apa yang ditulis di artikel itu… Benar-benar memalukan :v Jadi kalau mau mengisi kolom komentar kadang nggak tahu juga mau nulis apaan karena nggak paham… Biasanya cuma mencet like button :v Takut salah komentar

  1. Itu apaan sih??

“Pengguna WordPress tapi nggak ngerti apa-apa tentang WordPress”, itu kalimat yang pas buatku. Aku masih perlu belajar banyak tentang WordPress. Aku bahkan nggak ngerti istilah-istilah yang biasa disebut oleh blogger lain. Nggak tahu ini lah, itu lah, pokoknya… aku masih butuh belajar.

Buruk sekali -_-

  1. Reply nggak ya?

Ini juga mirip-mirip sama 2 masalah di atas. Terkadang komentar yang kudapat bahasanya terlalu “pro” sampai-sampai aku bingung mau jawab apa. Jadi, instead of reply to them aku Cuma mencet like. Kalau sudah begini mah gawat, ntar dikira nggak ramah lagi 😭

  1. Yamete kudasai yo~

Ada suka dan duka punya blog di WordPress. Sukanya waktu post yang kubagikan dibaca, walau nggak dapat like nggak masalah. Tapi yang aku nggak suka adalah, kalau dapat like tapi postnya nggak dibaca -_- Minasan, paham nggak maksudku?

Neko pernah dapat spam like beberapa kali, entah itu post atau komentar. Dan jujur, aku benci itu. Ada beberapa (atau bahkan semua) post yang kupublikasikan mendapat like dalam sekejap dari orang yang sama. Itu sangat memuakkan, aku justru nggak menyukainya. Aku bahkan lebih suka kalau pembaca hanya menekan like button jika mereka suka aja dengan tulisanku, kalau nggak suka, nggak masalah nggak mencet like button-nya. Aku lebih baik begitu. Daripada mendapat banyak like dari orang yang sama untuk sekadar mendapat follower, HAHAHA!! Jangan harap.

Jahatkah Neko? :v

Sekiranya, itulah beberapa masalah ketika berhadapan dengan blogger lain (well, untuk saat ini). Kalau boleh jujur, selain sekadar membaca tulisan dari minasan, aku sangat ingin berinteraksi dengan kalian. Kalau boleh jujur, selain aku menganggap minasan sebagai pembaca, aku juga menganggap sebagai teman (ya walaupun kalian nggak menganggapku teman :v).

Kalau ada yang mau ngobrol denganku, Neko bisa berikan pin BB ^-^ Aku pernah suatu hari aku berkomentar di blog yang kuikuti, karena kebanyakan ngobrol dia memberiku pin bbnya 😄

Kalau gitu, aku akan berikan di kolom komentar jika ada minta aja 😊 atau kalau nggak ya e-mail, atau apalah, karena aku sangat ingin berteman dengan minasan.

Oke, sekian postnya. Sampai jumpa lagi!

Still… (8)

Epilogue


Aku menamai mereka Sora, yang berarti “langit” dan Hoshi yang berarti “bintang”. Sora adalah laki-laki baik yang suka menolong, tapi di samping itu ia juga ingin menjadi novelis berbakat. Hoshi adalah gadis imut yang memiliki impian besar, namun kadang ia bersikap pesimis.

Sora dan Hoshi adalah dua manusia yang tidak saling mengenal. Kesamaan mereka adalah, memiliki masalah yang tidak dapat terselesaikan jika hanya seorang diri. Tetapi, akhirnya mereka berdua bertemu, dan saling bertukar pikiran. Semenjak itu, mereka menjalin hubungan yang erat. Mereka mencurahkan isi hati dan pikiran, kemudian sedikit demi sedikit beban mereka terasa ringan berkat kepedulian mereka satu sama lain. Hoshi yang selalu diberi semangat dan dorongan oleh Sora, dan Sora yang suka dengan sifat Hoshi sehingga secara tak langsung memberi inspirasi untuk menciptakan tokoh dalam novelnya.

Di saat mereka mau terbuka dan saling percaya, mereka bisa mengerti dan menerima kehadiran satu sama lain dalam hidup mereka, yang membuat mereka merasa memiliki harta yang tak ternilai harganya. Mereka sadar mereka tidak sendirian sehingga mereka ingin melakukan yang terbaik, dan mendoakan yang terbaik demi orang yang mereka cintai.

Lalu di suatu malam, Sora dan Hoshi memandang jauh ke langit. Saat itu, Sora mengatakan sesuatu, sebuah kalimat yang membuat Hoshi menyadari arti dari kehadiran sosok Sora yang sebenarnya dalam kehidupan Hoshi.

“Karena langit tak akan pernah terlihat indah tanpa adanya bintang, maukah kau menjadi bintangku selalu?”

Hoshi tersenyum begitu lembut. Ia meneteskan air mata bahagia sembari menjawab,

“Karena bintang tak akan pernah bersinar terang tanpa adanya langit, maka jadilah langitku selalu.”

Sejak hari itu, Sora dan Hoshi berusaha menepati janji mereka untuk saling menggenggam tangan satu sama lain selalu dan selamanya.

***

4 tahun kemudian

Namaku Suzuki Tomoya, 28 tahun.

Beginilah kehidupanku yang sekarang. Aku menjadi populer semenjak merilis mangaku dengan judul “The Starless Sky“, dan diriku dikenal masyarakat luas sebagai mangaka yang berpengaruh. Aku bersyukur karena kehidupanku kini lebih baik dibandingkan yang sebelumnya. Walau begitu, aku lebih suka kehidupanku yang lama. Aku bisa dekat dengan orang-orang dan membantu mereka. Aku bisa memberi dorongan bagi siapapun yang membutuhkan bantuan. Namun kini terasa hampa. Aku merasa kesepian karena teman-temanku pun memiliki kehidupan mereka sendiri. Rasanya sesuatu menghilang dari kehidupanku.

***

Aku melangkah keluar, menuju duniaku. Ya, dunia dimana aku bisa meluapkan segala kekesalan dan mendapat inspirasi. Dunia yang selalu membawaku kembali pada ingatan saat-saat bersama orang yang kucintai. Sama persis seperti waktu itu, taman ini dikelilingi oleh pohon maple, pohon kesukaanku.

Aku berjalan hingga menemui seorang pria yang berusia sekitar 60 tahun sedang duduk di bangku yang biasa kutempati. Sepertinya ia sedang memperhatikan daun-daun pepohonan yang berjatuhan. Karena suatu alasan, aku mendekat.

“Boleh saya duduk?” Ia melihatku, lalu menganggukkan kepalanya.

“Tidak akan ada yang melarang.” Perlahan aku duduk disampingnya, ikut menyaksikan Momiji yang jatuh dan perlahan membentuk bukit.

“Sendirian? Sedang apa di tempat ini?” Tiba-tiba pria itu membuka topik pembicaraan.

“Iya, itu…” Dengan sedikit keberanian, aku menjawab, “…saya hanya sedang mengobati rasa rindu.”

“Ah…sedang merindukan seseorang rupanya. Apa kau mencintai orang itu?”

Aku mengangguk lalu menjawab pelan, “Sangat…”

Setelah aku menjawab, dengan anehnya pria ini tiba-tiba tertawa. Lalu ia menghentikan tawanya, dan melihatku, “Hidupmu pasti berwarna, merindukannya sampai seperti itu.” Senyumannya yang begitu lebar membuatku penasaran.

“Bagaimana dengan Anda?” tanyaku

“Sama sepertimu, aku di sini untuk mengobati rasa rinduku.”

“Anda merindukan seseorang?” Aku kembali bertanya, mencoba memuaskan rasa penasaran.

“Ya. Dia istriku.” katanya, sembari menatap langit yang cerah saat ini.

“Ah… Memangnya, dimana beliau berada?”

Pria itu menoleh ke arahku, tapi kemudian ia meluruskan pandangannya. Setelah menarik nafas panjang disusul hembusan yang panjang pula, ia kembali memandang langit dengan tatapan penuh makna.

“Dia di atas sana, sedang mengawasiku di dunia yang tak terjangkau.”

Aku tersentak. Aku merasa bersalah sudah menanyakan hal yang membuatnya mengingat hal buruk. Entah apa yang kurasakan dan kupikirkan saat ini, namun pria itu tidak terlihat bersedih bahkan setelah menceritakan perasaannya.

“Ah, maaf. Saya…”

“Tidak, tidak…” Ia memotong pembicaraanku. “Kau boleh menganggapku aneh, tapi jika ada seseorang yang sedang merasakan apa yang sedang kurasakan, aku bisa menjadi lebih tenang.” Merasakan apa yang ia rasakan? Merindukan seseorangkah maksudnya?

“Dia, Manami-chan… Kami bertemu secara kebetulan di taman ini. Saat itu hujan deras, dan ia sedang berteduh di salah satu pohon maple. Lalu aku yang membawa mobil menawarinya tumpangan dan mengantarkannya pulang. Semenjak itu, kami menjadi begitu dekat…”

Aku mendengarkannya dengan seksama. Mendengarkan kisah orang lain juga membuatku merasa tenang. Aku menunggunya melanjutkan cerita dengan sabar.

“Tiga tahun kemudian kami menikah, dan dikaruniai dua buah hati yang lucu. Namun, empat tahun lalu… sebuah mobil menghantam tubuhnya yang lemah, dan meninggalkan kami bertiga begitu saja…”

Kisahnya tentu membuatku iba. Mereka akhirnya menemukan belahan jiwa dan seharusnya bisa hidup bersama…

Tapi empat tahun lalu? Itu berarti tahun yang sama saat terakhir kali aku melihat Emi-san. Dan pertemuannya dengan Manami-san yang tidak sengaja di sebuah taman… itu pun mirip dengan kisahku. Pria itu mengingatkanku tentang kehidupanku sendiri.

“Walau dia telah tiada, aku selalu percaya bahwa kami saling terhubung. Setiap kali aku pergi ke tempat ini untuk mengenang saat-saat bersamanya, aku selalu merasa lega. Terlebih jika ada orang sepertimu, membuatku merasakan kehadiran Manami-chan.”

Ia kembali tersenyum lebar. Ia tampak lega, seperti… Rasa rindu yang terobati.

“Ah, ngomong-ngomong,” Ia memalingkan kepala dan tubuhnya ke arahku. “… namaku Oda.”

“Tomoya.” Jawabku sambil tersenyum.

“Tomoya-kun. Apa kau juga ingin berbagi kisah cintamu?”

“Ah… tidak, terima kasih. Saya terlalu malu.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku mohon pamit sekarang. Terima kasih atas waktunya, aku menikmati pembicaraan kita tadi.”

“Sama-sama, Oda-san. Saya senang bisa membantu.” Ia bangkit berdiri dan mengambil barang bawaannya.

“Semoga harimu menyenangkan.”

“Anda juga.” Oda-san mulai berjalan, semakin menjauh. Ah… bahkan dari belakang terlihat sekali bahwa ia seorang yang tegar.

Mendengarnya bercerita tentang kehidupannya, ia telah mengajariku suatu hal, sebuah hal yang amat penting dan jangan sampai terlupakan. Jika aku bertemu Emi-san kembali, aku akan selalu di sisinya. Aku akan selalu menjaganya dengan segenap hati, sehingga aku tak akan menyesal pada akhirnya, seperti yang dialami Oda-san.

Tetapi setelah Oda-san pergi, aku sendirian. Tidak ada seorang pun yang bisa kuajak berbicara. Aku kesepian. Seandainya Emi-san di sini… Tidak, seandainya Emi-san di sampingku saat ini…

Ketika aku meminggul berbagai macam hal yang rasanya seperti akan tumbang, ku ingat saat itu
Kita selalu terhubung, karena tangan itu bukanlah omong kosong belaka
Hari-hari yang tak bisa terulang itu berharga, namun hari esok juga menunggu kita
Kita masih bisa pergi kemana pun

Untuk mengatasi rasa kesepianku, aku mengeluarkan sketchbook yang sudah lama kusimpan dan berniat menggores kertas polos nan putih dengan berbagai coretan. Kubuka halaman lembar demi lembar. Lalu, mataku tertuju pada selembar kertas yang kuselipkan di buku itu.

Empat tahun lalu, Emi-san memintaku untuk membuatkan sebuah lukisan potret dirinya. Lalu, aku pun berjanji padanya untuk membuatnya saat waktu luang, dan akan memberikan hasil jadinya. Namun karena terlalu sibuk, atau terlalu memikirkan diri sendiri, aku melupakan janjiku untuk menyelesaikannya.

Aku mengambil sebatang pensil. Kucoba menyelesaikan lukisan Emi-san dengan latar belakang pohon maple itu.

Namun… mengapa ini? Mengapa tanganku tidak mau bergerak sedikitpun? Air mata megalir membasahi pipiku. Belum pernah aku merasa sesedih ini. Kedua tanganku memegang erat kertas itu. Emika-san… Apakah kau merasakan hal yang sama sepertiku? Karena aku… sangat merindukanmu.

“Tomoya-kun…”

Tiba-tiba terdengar suara. Suara yang begitu pelan, dan… familiar, menyebut namaku. Aku memalingkan kepala ke arah sumber suara.

Untuk yang kedua kalinya, aku melihat sosok itu.

Sosok yang memiliki impian besar. Sosok yang tidak bisa tenang jika sendirian. Sosok yang… membuat hidupku penuh warna.

“Kita bertemu lagi.”

Mungkin, waktu itu  kita mulai berjalan
Masing-masing di jalan kita yang berbeda
Hingga suatu saat nanti kita mengerti alasan kita berdua bertemu
Ketika roda mulai berputar, maka perjalanan pun benar-benar dimulai
Sehingga aku tak akan tersesat lagi, aku akan berpegang lembut pada masa laluku

“Selamat datang kembali.”


Otsukare~ >_< akhirnya cerita ini selesai juga ^o^ gimana menurut minasan? Tentu masih ada banyak perbaikan, ne~ Kalau menurut pendapatku, ini nih kekurangannya:

  • Jalan cerita dan penyelesaian masih terlalu sederhana
  • Melupakan karakter pembantu yang berperan di sini: Ryuuto dan Seiichi hanya muncul sebelum Emika dan Tomoya akrab
  • Terlalu banyak lompatan waktu, jadi terkesan lebih cepat
  • Karakter Tomoya yang tenang berubah ketika di epilog ini dia sangat merindukan Emika, dan akhirnya nggak bisa membendung air matanya lebih lama :v
  • Di episode 6 Tomoya terlihat terlalu bodoh untuk menyadari bahwa Emika adalah gadis yang ditemuinya 3 tahun lalu 😂
  • Dan of course: bahasa

Wah banyak ya :v

Kelebihannya sih, nggak bisa nyebutin :v mungkin minasan bisa menemukan kelebihan dari cerita tadi? Atau menemukan kekurangan lainnya? Hehe…

Ngomong-ngomong gambar di atas tadi gambar sendiri loh :3 apa sudah tampak seperti gambar seorang mangaka? :v *ngarep

Sebenarnya ada arti di balik gambar itu lho, minasan… Di gambar itu tampak sekali bahwa Tomoya dan Emika duduk saling membelakangi. Tapi sebenarnya, mereka duduk di bangku yang sama 😂 hanya saja ngambilnya dari sudut pandang yang berbeda. Jadi yang mau neko sampaikan adalah, mereka saling menunggu kehadiran satu sama lain tanpa menyadari bahwa mereka saling berdekatan :v

Bagi yang penasaran sama lagunya, bisa dilihat di sini, kalau mau lihat translationnya di sini –> *bukan hasil kerjaan nekochan (ya sebenarnya penggalan lagu yang aku pakai di cerita itu sudah termasuk translationnya sih)

Btw, selama sekitar 2 minggu neko vakum dulu karena ada ukk 😂 gomen ya minasan…

Nah, sekian ^-^ rencana sih mau bikin cerbung lagi dengan tema horror :3 tapi ditunggu aja yah siapa tahu kesampaian 😀 jaa ne~

Still… (7)

Episode 6


Aku duduk di salah satu kursi di Brooklyn Parlor, cafe ala New York yang berada di Shinjuku. Ya, cafe yang biasa kukunjungi bersama Seiichi-kun dan Emika-san. Menikmati secangkir kopi sambil membaca buku dan mendengarkan alunan musik yang merdu, tempat ini membuat pengunjungnya serasa di Amerika.

Tujuanku yang sebenarnya adalah menunggu kehadiran Emika-san yang baru saja menghubungiku meminta bertemu di cafe ini setelah sekitar tiga hari ia mengalami insiden itu. Sambil membaca buku “The Hound of Death” karya Agatha Christie, aku menunggu dengan sabar.

Kemudian terdengar suara pintu cafe dibuka. Tampaklah Emika-san masuk sambil melihat ke arah tempatku menunggu. Ia segera mendekat dan langsung duduk di kursi yang berada di depanku.

“Tolong secangkir espresso… Dingin.” Katanya sedikit berteriak pada pelayan cafe, sambil mengangkat tangan kanannya. Espresso dingin? Tidak seperti biasanya.

“Merasa lebih baik?” Aku mulai angkat bicara. Emika-san hanya tersenyum dan mengangguk. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan.

Beberapa detik kemudian, pesanan Emika-san datang. Ia langsung meneguk minuman favoritnya.

“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Aku kembali bertanya. Setelah itu ia meletakkan cangkir di atas meja. Tiba-tiba, Emika-san mengeluarkan air mata. Melihatnya menangis tanpa sebab, membuatku sedikit terkejut sekaligus bingung.

“Mereka mengetahuinya.”

“Siapa?”

“Orang tuaku melihat berita, kecelakaan itu. Lalu mereka bilang semua hal buruk tentangku. Aku mirip kakakku, ceroboh, dan tidak dapat diandalkan. Aku tidak bisa menjadi model. Semua hal yang kulakukan hanyalah sia-sia belaka. Sekiranya itulah yang mereka pikirkan. Mereka tahu semua ini akan terjadi.”

Sudah kuduga. Penghalang seperti ini harus segera disingkirkan dari jalan Emika-san. Jika tidak, maka jalannya akan berlubang. Jika jalannya berlubang, maka Emika-san tidak bisa melewatinya. Jika Emika-san tidak bisa melewatinya, maka ia tak akan pernah sampai ke tempat tujuan.

“Tomoya-kun…” Emika-san memanggilku dengan suaranya yang terdengar terisak, “Apakah menurutmu manusia bisa berubah?”

Ini dia. Pertanyaan yang jawabannya tidak dapat kupastikan.

“Semua manusia bervariasi, Emika-san.” Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. “Tapi bagaimana denganmu? Apakah kau tipe orang yang bisa berubah?”

“Aku tidak tahu, itu sebabnya aku bertanya padamu.”

“Masalahnya, kata yang tepat bukanlah ‘bisa’, tetapi ‘ingin’. Manusia tidak akan ‘bisa’ berubah jika mereka tidak ‘ingin’, tetapi jika mereka ‘ingin’, maka akan ada peluang lebih besar untuk ‘bisa’ berubah.”

Entah dari mana kata-kataku barusan. Mereka selalu keluar menurut kehendak mereka. Tapi memang, hanya ini yang bisa kulakukan. “Jadi, apakah kau tipe orang yang ‘ingin’ berubah?”

“Ya… kurasa aku tipe orang seperti itu.”

“Dengan usaha yang sedikit demi sedikit kau tumpuk, maka kau akan mendapatkan keinginanmu.”

Emika-san mengusap air mata menggunakan sapu tangannya. Ia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Kau hanya perlu menunjukkan pada orang tuamu bahwa kau bisa mengatasi masalah ‘perubahan’ ini, maka semuanya akan berjalan lancar.” Kataku mantap.

“Tomoya-kun. Bagaimana kau bisa setenang ini? Dari dulu, kau selalu bisa membuatku berpikir positif.”

Ah… ya. Itu juga aku tidak bisa memastikannya. Karena keinginanku untuk membantu orang lain, mungkin? Atau… pengalaman?

Pengalaman? Mungkin…

“Emika-san… Boleh aku bercerita sedikit?”

“Tentu saja. Tidak perlu meminta izin, kan?”

“Tiga tahun lalu di taman kota, aku bertemu gadis yang sedang menghadapi masalah. Katanya, ia tidak punya tujuan dan tidak ditakdirkan untuk mendapat kesuksesan. Dia tampak begitu putus asa. Tapi, aku mengingatkanya. Semua orang ditakdirkan untuk memiliki masa depan yang cerah. Hanya saja, itu tidak mudah. Ada yang putus asa, ada juga yang mau berusaha. Dan hal itu akan didapat bagi orang yang berjuang hingga akhir.”

Aku menarik napas panjang, dan kuhembuskan. “Mungkin sejak itulah aku terus ingin seperti ini. Aku hanya ingin orang sepertinya terus menatap ke depan. Emika-san, kau… Mengingatkanku padanya. Kau sungguh mirip dengannya.”

Emika-san memandangku dengan tatapan penuh arti. Lalu, ia mulai menanyakan sesuatu. “Tunggu. Setelah itu, apa yang terjadi?”

“Setelah itu kami berpisah, tanpa tahu nama satu sama lain. Aku benar-benar menyesal, perasaan itu tidak bisa kulupakan. Aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengannya, seperti yang ia katakan. Tapi kedengarannya itu mustahil, ya?”

“Apa yang dikatakannya?”

“”Kita akan bertemu suatu hari nanti,” kira-kira begitu.”

Ekspresi wajah Emika-san mengatakan kalau ia memikirkan sesuatu. Sepertinya ia sangat tertarik pada ceritaku.

“Tomoya-kun…” Katanya memanggilku, sambil sedikit membungkukkan badannya. “Apa kau tahu… hal yang disukainya?”

Hal yang disukai? Hmm… Ya, sepertinya aku mengetahuinya. Tapi, mengapa ia bertanya sampai ke sana? Yah, aku hanya perlu menjawabnya.

“Musim gugur, kurasa”

Emika-san kembali menegakkan badannya. Tapi entah kenapa, raut wajahnya terlihat sedikit terkejut ketika aku selesai bercerita.

“Memangnya ada apa?”

Hening. Emika-san diam saja setelah aku melontarkan pertanyaan. Ia tampak melamun.

“Emika-san?”

“Ah, tidak apa.” Sepertinya ia sudah sadar. “Ano, sebenarnya masih ada urusanku yang belum selesai. Bolehkah aku permisi dulu?”

Mendadak? “Ya, tentu.”

Kemudian Emika-san mulai mengemasi barangnya, membayar pesanannya dan kemudian pamit. Ia melangkah menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan memanggilku. “Tomoya-kun…”

“Ya?”

Emika-san mengalihkan pandangannya ke arahku. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Hari itu, kupikir kau mencoba mengatakan sesuatu padaku…”

Bahkan jika kukatakan padamu, itu sudah tak penting lagi

“Apa?”

“Ah, tidak.”

***

Sudah sekitar satu bulan lamanya aku dan Emika-san tidak bertemu semenjak kami bersama di cafe Brooklyn Parlor. Aku juga tidak dapat menghubunginya. Aku mengunjungi rumahnya, tapi sepertinya ia tidak sering berada di rumah. Aku mengunjungi ke tempat yang biasa dikunjunginya, tapi sia-sia. Aku jadi khawatir memikirkannya. Semoga hal buruk tidak terjadi padanya. Ditambah lagi, kata-kata yang terakhir kudengar darinya membuatku tak bisa tidur semalam. Apa sebenarnya maksud Emika-san?

Ah, ponselku berbunyi. Panggilan masuk. Dari Emika-san? Akhirnya setelah sekian lama ia menghubungiku juga.

“Halo? Emika-san? Kemana saja kau? Aku mencemaskanmu.”

“Ah, maaf, Tomoya-kun. Mengenai itu, bagaimana kalau kita bicarakan di Brooklyn Parlor?”

“Baiklah.”

***

“Tomoya-kun, tebak!”

Ah… Ia tampak begitu bersemangat. Ternyata hal baiklah yang datang padanya. Syukurlah.

“Um… Entahlah. Memangnya ada apa?”

“Aku diterima bekerja di London!”

“Benarkah!? Itu sangat mengejutkan.” Jujur saja, aku ikut bahagia mendengarnya. Usaha yang selama ini dikejarnya, membuahkan hasil. Aku sudah bilang padamu, Emika-san. Kau bisa berubah jika kau menginginkan perubahan. “Selamat, kau memang hebat.”

“Kau benar, Tomoya-kun. Akhirnya orang tuaku mau mengerti. Akhirnya aku bisa mendapat apa yang kukejar. Tapi, mungkin aku akan berada di sana selama beberapa tahun.”

Aku tidak mengerti, raut wajahnya yang gembira makin lama makin memudar. “Bukankah itu bagus?”

“Tomoya-kun, bukankah itu artinya… Kita akan berpisah?”

“Apa yang kau bicarakan? Kita akan bertemu lagi bukan?”

“Sebenarnya, yang membuatku bisa berusaha sampai sejauh ini adalah dirimu. Selama ini, aku tidak bisa melakukan usahaku sendiri tanpamu. Aku takut jika nantinya kau tidak ada di sana bersamaku, dan aku akan mengalami hal yang sama seperti dulu lagi.” Aku benar-benar tidak mengerti. Pencapaiannya sudah sampai sejauh ini, namun ia justru terlihat sedih. Air mata membasahi pipinya.

“Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Kau sudah sampai sejauh ini, kau pasti…”

“Tomoya-kun!”

Aku tersentak. Dia memotong pembicaraanku. Nada bicaranya meninggi, tidak seperti biasanya. Aku benar-benar tidak mengerti.

“Tomoya-kun. Aku tidak ingin berpisah… untuk yang kedua kalinya.”

“Suatu hari nanti…” Teringat olehku sebuah ucapan darimu yang terdengar mudah terlupakan
Di suatu jalan, angin yang dapat memanggil musim berthenti bertiup
Lalu aku tersadar berkat suaramu dan melanjutkan hidupku seperti biasa
Segalanya tampak bersinar semenjak hari itu

***

Kini, aku mengerti. Aku mengerti segala sesuatu yang telah kualami. Perasaan aneh yang menggangguku ketika bersama Emika-san, aku mengetahuinya sekarang. Bagaimana? Bagaimana aku bisa melupakannya? Sifat itu, wajah itu, senyuman itu… Mengapa aku bisa lupa?

Gadis yang kutemui 3 tahun lalu, selama ini selalu di sisiku, menemaniku, dan mewarnai hidupku. Kini gadis itu sedikit demi sedikit menuju kesuksesannya. Namun lebih dari itu, ia tidak ingin berpisah dariku. Kemudian aku mengingatkannya, lagi. Untuk mencapai apa yang benar-benar kau impikan, meninggalkan perasaan yang paling dalam mungkin saja dibutuhkan. Sama sepertiku, demi Emika-san, aku rela melepaskan tangannya agar mimpinya dan mimpiku benar-benar terpenuhi. Maka dari itu, Emika-san… Kau juga harus melepaskan genggamanmu. Untuk saat ini, mari kita berjalan di jalan kita masing-masing. Hingga suatu hari nanti kita menemukan satu jalan dengan cahaya paling terang.

Kau adalah kau, lukislah mimpimu sebesar mungkin
Aku akan berdoa demi kesuksesanmu, dari sini

“Jika aku hanya menunggu, maka tak akan ada hari esok
Karena tak ada apapun yang akan dimulai jika terus berdiam di sini”

Walau jalan gelap yang sebelumya tak dapat kulihat
Walau itu jalan memutar sekalipun
Sekarang, untuk sementara
Marilah kita berdua saling meninggalkan rasa sakit kita

Ini bukanlah perpisahan, melainkan pertemuan dari awal yang baru
Namun aku sangat ingin bertemu denganmu
Masih…
Suatu hari nanti kita akan bertemu dan tertawa

Ya, pasti

 


Minasan, maaf ya. Terasa lama? Ya. Ternyata aku masih belum bisa memahami apa masalah yang sedang kualami. Sebenarnya, Still seri ke 7 ini sudah dipublikasi beberapa hari yang lalu. Tapi karena tanggalnya menunjukkan tanggal 17 Mei (padahal dipublikasi tanggal setelahnya) jadinya… dipublikasi ulang (seperti yang kulakukan pada  2 seri Still… sebelumnya).

Tapi untungnya cerita ini sebentar lagi akan selesai ^-^ jadi nggak sabar mau publish seri terakhir >_< Oke, tunggu aja ya minna!

Still… (6)

Episode 5


 

Enam bulan telah berlalu semenjak Emika-san dan diriku bertemu satu sama lain. Emika-san juga semakin bersinar seiring berjalannya waktu. Tak terasa pula, hubunganku dengan Emika-san juga semakin dekat.

Kami sering bertemu satu sama lain. Kami sering bercanda ria dan mengungkapkan isi hati dan pikiran masing-masing. Di saat seorang mengalami keberhasilan, kami saling memberi ucapan selamat. Di saat seorang mengalami kegagalan, kami saling menghibur. Kami selalu memberi semangat, dan kami selalu melakukan yang terbaik.

Namun, ada suatu hal yang mengganjal di pikiranku. Seperti ada sesuatu yang menggangguku, entah apa itu. Rasanya seperti… Aku telah melupakan sesuatu. Tapi saat kucoba mengingatnya, sia-sia saja. Aku tidak bisa memastikan perasaan apa yang menghantui diriku. Dan perasaan itu kudapat saat aku bersama Emika-san.

***

“Ini adalah kesempatan bagimu. Kau sudah selangkah lebih maju.”

“Terima kasih.” Emika-san meneguk minuman favoritnya, secangkir espresso panas selalu menjadi pilihannya di cafe manapun.

“Kau akan datang, kan? Tomoya-san.”

“Tentu saja, lagipula aku dimintai Maruyama-san untuk meliput acara itu.”

“Kalau begitu, semoga berhasil.”

Aku tertawa kecil menanggapinya. “Kau juga.”

***

Aku dan para staff Maruyama, sudah berada di Conrad, sebuah hotel berbintang lima yang berlokasi tidak jauh dari pusat keramaian Stasiun Yurikamome Shiodome, Tokyo. Hotel Conrad mengadakan sebuah pagelaran fashion show besar-besaran, yang dihadiri oleh beberapa pengamat fashion ternama.

Kami segera menuju tempat yang sudah ditentukan, dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Ruangan dipenuhi oleh penonton yang mereka semua tampaknya begitu profesional.

Sebenarnya, aku sangat menantikan hari ini. Aku tidak sabar ingin menyaksikan secara langsung Emika-san mengenakan pakaian mahal karya designer terkenal. Seperti apakah dirinya nanti? Apakah ia akan menyadari kehadiranku di sini? Ah, tidak. Lebih baik ia fokus pada pekerjaannya. Aku justru berdebar-debar menantikannya. Semoga saja Emika-san bisa menjalani hari ini dengan mulus.

Beberapa menit kemudian, acara dimulai. Segera, aku pun melakukan tugasku. Para model berlenggak-lenggok dan berpose di atas panggung. Aku mulai memotret setiap peristiwa yang ada, dengan penuh kesabaran dan konsentrasi.

Lalu, tampaklah seorang model yang begitu cantik dengan rambutnya yang digerai dan mengenakan dress berwarna jingga yang hampir selutut panjangnya. Ya, ialah Chikafuji Emika, seorang model amatir yang sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi model internasional. Ia berpose dan berlenggak-lenggok di atas panggung. Kulitnya yang cerah dan gaunnya yang indah, membuatnya terlihat seperti seekor ikan mas yang berenang-renang ria di kolam yang jernih.

Suasana begitu meriah saat itu, hingga beberapa detik kemudian… suatu hal yang tidak diinginkan telah terjadi.

***

“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja, kan?”

“Ya, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin aku tidak perlu ke sana?”

“Tidak usah mengkhawatirkanku. Lagipula kau sibuk kan? Lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri.”

Malam itu, terjadi suatu hal yang buruk di hotel Conrad. Ketika Emika-san bergaya catwalk dengan begitu percaya diri, ia justru mendapat rasa malu pada akhirnya. Tanpa sadar kakinya tergelincir hingga tubuhnya terjatuh keluar panggung, dan kepalanya terbentur. Saat itu seisi ruangan menjadi panik. Untung saja, tidak ada luka serius yang diakibatkan benturan itu. Namun yang kukhawatirkan adalah, kehidupan setelahnya.

Aku khawatir jika Emika-san merasa dirinya ditertawakan, sehingga putus asa dan tidak ingin melanjutkan karirnya. Ah, sebaiknya aku tidak berpikir demikian. Yang perlu kulakukan hanyalah membuatnya yakin bahwa ia berbakat, dan akhirnya ia akan bangkit. Lagipula itu hanya kecelakaan, tidak lebih. Kecelakaan tidak akan membuat reputasinya hancur.

Sekarang ia sedang beristirahat di rumahnya. Aku sangat ingin menjenguknya, tetapi ia menolak. Ia ingin sendirian untuk sementara waktu. Kini, aku sedang mendengarkan suaranya melalui ponselku.

“Kalau begitu, hubungi aku jika butuh sesuatu. Semoga lekas sembuh, dan kembalilah ke atas panggung untuk membuat semua orang terpukau.”

 


Horeee~ akhirnya bisa blogging seperti dulu lagi T.T *terharu*

Akhir dari episode 5. Mohon tinggalkan kritik, saran, atau lainnya ^-^ Terima kasih banyak~

Still… (5)

Episode 4


 

“Wah, Anda berbakat.” ucapku, memuji hasil gambar yang telah dipotret oleh Suzuki-san.

“Diri Anda-lah yang membuat foto ini terlihat sempurna.”

“Anda terlalu berlebihan.” Baru kali ini aku dipuji oleh kata-kata manis seperti itu. Bahkan orang tuaku tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun yang bisa membuatku bersemangat untuk melangkah maju. Teman-teman, para penggemar, rekan-rekan, dan Ryuuto-lah yang ada di sisiku dan selalu mendukungku.

“Saya akan melukisnya saat ada waktu.”

“Ah, maafkan. Saya malah merepotkan.”

“Tidak, saya justru senang. Belum pernah ada yang meminta saya untuk menciptakan sebuah karya sebelumnya.” Suzuki-san tersenyum lembut. Dari wajahnya terlihat sekali bahwa ia gembira. Syukurlah.

“Chikafuji-san…,” tiba-tiba Suzuki-san menyebut namaku. Kali ini ia seperti menyadari suatu hal. “…teman saya ingin bertemu dengan Anda. Jika punya waktu, maukah Anda menemuinya?”

“Hmm…, kalau begitu, mungkin sekarang masih sempat…”

***

“Saya adalah penggemar Anda. Nama saya Maruyama Seiichi. Senang bertemu dengan Anda.” ia memperkenalkan dirinya sembari tersenyum padaku, kemudian membungkukkan badannya. “Chikafuji Emika. Senang bertemu Anda juga. Mohon bantuannya.”

Seperti yang telah dikatakan Suzuki-san, ayah Seiichi-san adalah orang yang memiliki perusahaan ternama ‘Maruyama’. Wah, seorang anak dari pemilik perusahaan besar, adalah penggemar dari seorang model yang baru belajar ini. Aku sangat gembira mendengarnya.

Di sebuah cafe, kami duduk bertiga. Hanya ada sedikit orang di sekitar. Seiichi-san memesan kopi untuk kami. Secangkir espresso kesukaanku dan dua cangkir cappuccino, menemani kami siang hari.

“Saya ingin mengobrol sedikit dengan Anda. Apakah Anda memiliki waktu sebentar saja?”

“Tentu. Silakan.” jawabku, kemudian meminum seteguk espresso.

“Sebenarnya…”

***

Seiichi-san dan Suzuki-san melaju dengan mobil berwarna merah dan melambaikan tangan mereka ke arahku setelah kami keluar dari cafe, aku pun membalas salam mereka dengan kembali melambaikan tangan. Seiichi-san memang telah menawariku tumpangan, namun aku menolak karena aku masih memiliki tempat yang harus kukunjungi bersama Ryuuto.

Soal percakapanku dengan Seiichi-san, perusahaan ‘Maruyama’ menginginkanku untuk menjadi model utama majalah fashion mereka, dengan edisi terbatas. Tentu saja kesempatan ini tidak boleh kulewatkan. Siapa tahu ini bisa menjadi penentuan karirku.

 

Bertemu kesulitan, memahaminya secara bertahap
Menangis dengan keras ketika musim mulai mendekat

 

Aku beranggapan bahwa inilah harapanku, kehidupanku yang sebenarnya dimulai dari sini. Aku adalah orang yang bisa berdiri di puncak, akan kubuktikan pada dunia. Akan kubuktikan juga… padanya.

 


Tadaima! Akhirnya gw balik lagi setelah seminggu lamanya :’v bagi yang penasaran sama karya wisata ke Bali gw akan diinformasikan di post berikutnya 🙂

Akhir dari episode 4. Kayaknya episode kali ini (sangat) pendek, ne~ Oh ya, mungkin sebagian dari kalian beranggapan kalau Seiichi nantinya akan jatuh cinta sama Emika, tapi itu salah, minasan~ Sebenarnya Seiichi menemui Emika karena dia juga nggak ingin melewatkan kesempatan bertemu idolanya, dan juga menawarinya pekerjaan agar perusahaan ayahnya mengalami peningkatan kesuksesan, mumpung si Emika ini lagi naik daun, hehe…

Makasih udah mau baca ^-^ Silakan berkomentar berupa kritik, saran, request, atau lainnya. Onegaishimasu!