Still… (1)

Prologue


 

Pertama kali aku melihatnya sedang duduk sendirian di bangku taman, memandang jatuhnya daun-daun pepohonan yang memerah. Syal merah dan topi wol yang menutup sebagian wajahnya, mendorong niatku untuk mendekat.

“Musim gugur. Indah, ya?” Perlahan aku duduk di sampingnya, ikut menyaksikan Momiji* yang berjatuhan dan mulai membentuk bukit.

“Aku menyukainya.” Jawabnya dengan suara yang begitu pelan. Entah karena syal yang menutupi mulutnya, atau kepribadiannya yang malu-malu.

“Oh, aku juga.” Dengan sedikit keberanian, aku mulai membuka topik, “Sendirian? Sedang apa di tempat ini?”

“Entahlah.”

“…Entahlah?”

“Ya, entahlah. Aku selalu begitu. Mungkin sejak awal aku memang dilahirkan tanpa tujuan.” Kata-kata yang keluar dari mulutnya justru membuatku bingung dan penasaran. Apakah ia terlalu terbuka? Ia tampak sedang mencurahkan isi hatinya, bahkan pada orang asing sekalipun.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku, mencoba memuaskan rasa penasaran.

“Aku hanya ingin menggapai impianku,” satu lagi, kata-kata darinya yang membuatku ingin menelusuri lebih jauh. “Tapi saat aku mencoba untuk mewujudkannya, selalu saja gagal.” Ia bercerita langsung pada intinya. Sepertinya ia memang sedang menghadapi masalah. “Aku telah belajar dari pengalaman, namun hasilnya sama saja. Sepertinya aku tidak ditakdirkan untuk menjadi orang yang bisa berdiri di puncak.”

Tiba-tiba saja nada bicaranya berubah, seperti ingin menangis. Seberat itukah masalah yang sedang dihadapinya? Dengan segenap keberanian, aku mencoba untuk menghiburnya.

“Kau suka musim gugur, kan? Jika sedang resah atau semacamnya, apa kau melakukan hal seperti saat ini?”

“Aku selalu melakukannya, untuk menghilangkan pikiran buruk mengenai masalahku,”

“Lalu, apa kau selalu bisa melepaskan segala kepenatanmu setelah melakukannya?”

“Ya. Itu sebabnya aku menyukai musim gugur.”

“Jika demikian, bukankah itu artinya kau salah?”

Sejenak ia terdiam. Raut wajahnya terlihat bingung menanggapi kata-kataku. “Apa maksudmu?”

“Kau bilang kau tidak punya tujuan? Bukankah saat ini kau duduk di bangku ini demi melupakan segala pikiran buruk tentang masalahmu? Itu sudah merupakan suatu tujuan.”

Kali ini ia tampak sedang berpikir.

“Kau bilang kau tidak ditakdirkan untuk berhasil? Bukankah selama ini usahamu untuk menghilangkan stress membuatmu menyukai musim ini?”

Ekspresinya berubah lagi, seperti menyadari sesuatu yang penting.

“Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Itulah impianku. Namun sama sepertimu, aku sering terjatuh. Tapi karena aku sadar aku memiliki orang-orang yang tidak boleh kukecewakan, aku bangkit dan menyeka lukaku.”

Mungkin saat ini aku sudah berlagak sok bijak, tapi siapa tahu, pemikiranku bisa menjadi motivasi baginya. Aku akan senang sekali bila itu sungguh terjadi.

Suasana hening sejenak. Namun tak lama kemudian suara lembut gadis itu memecah kesunyian.

“Menurutku kau telah berhasil, karena aku tertolong.” Sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. Ia nampak lega, aku bisa merasakannya. Aku pun ikut lega.

“Terima kasih. Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang sepertimu.”

“Sama-sama. Aku senang bisa membantu.”

Tiba-tiba terdengar suara telepon dari dalam tas gadis itu. Dengan sedikit terkejut ia membuka tasnya dan mengangkat panggilan itu. Suara seseorang yang sepertinya sedang terburu-buru terdengar dari speaker ponselnya.

“Maaf, aku ada keperluan. Aku harus segera pergi. Sekali lagi, terima kasih. Senang bertemu denganmu.”

“Ah,…” Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, tapi rasanya aku tidak ingin berpisah dengannya. Kemudian sebuah kalimat spontan yang mempertanyakan hubungan kami setelahnya, terlontar dari mulutku.

“Apa kita masih bisa bertemu lagi?” Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar. Agak malu setelah mengucapkannya, karena itu memang bukan kata-kata yang tepat diucapkan untuk saat ini. Namun gadis yang sudah bersiap untuk pergi itu berpaling ke arahku.

“Mungkin…” katanya sembari menatapku.

“…Suatu hari nanti”

Setelah itu ia berlari kecil menuju sebuah mobil putih, menyalakan mesin, dan perlahan menjauh dari tempatku berdiri dan akhirnya tak terlihat.

Mungkin, waktu itu  kita mulai berjalan
Masing-masing di jalan kita yang berbeda
Hingga suatu saat nanti perasaan itu akan memancarkan cahaya
Ketika roda mulai berputar, maka perjalanan pun benar-benar dimulai
Sehingga aku tak akan tersesat lagi, aku akan berpegang lembut pada masa laluku

 

***

Sekiranya, itulah pengalamanku 3 tahun yang lalu. Setelah peristiwa itu, aku menyadari suatu kesalahan amat fatal yang telah kuperbuat. Entah karena kebodohan atau ketidakpedulian masing-masing pihak, kami lupa bertanya nama satu sama lain.

Tapi aku tahu, perjalananku tidak terhenti sampai di sini. Aku tahu, kami bukan berpisah, tapi kami sama-sama memulai awal yang baru. Aku yakin, suatu hari nanti kami akan bertemu lagi. Dan aku yakin, kami akan mengerti alasan mengapa kami berdua bertemu.

Masih…

Aku masih ingin bertemu.

 


*Momiji: sebutan orang Jepang untuk daun-daun di musim gugur yang warnanya mulai kecoklatan/merah

Iyaa~h akhirnya rilis juga (rilis?) :v Cerita berawal dari sini. Thank you for reading! ^-^ Mohon tinggalkan kritik, saran, dan of course… request! (kalo mau aja sih, intinya isi kolom komentar, hehe) Episode 1 akan dirilis di post berikutnya :v Maaf kalo cerita dan bahasanya agak aneh, masih belajar, hehe :3

NB: Mungkin isi setiap episodenya bakal pendek-pendek

Advertisements

4 thoughts on “Still… (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s