Still… (2)

Episode 1


 

Namaku Suzuki Tomoya, 24 tahun.

Tiga tahun yang lalu, aku bertemu seorang gadis. Saat itu, ia seperti sedang menghadapi suatu masalah yang amat rumit. Dengan segenap keberanian dan percaya diri, aku berusaha untuk memberinya semangat. Namun saat hendak berpisah, kami tidak saling bertanya nama satu sama lain. Dan hingga kini aku masih ingin menemuinya dan menanyakan namanya, namun hal itu mungkin terdengar mustahil.

Cita-citaku adalah menjadi penerang banyak orang. Bagiku, memberikan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain adalah suatu tindakan terpuji. Dipandang baik di mata masyarakat dan dijadikan panutan, sungguh membuatku senang. Boleh dibilang, impianku terdengar seperti impian anak kecil berumur lima tahun-an yang ingin menjadi superhero.

Walau begitu, aku berakhir dengan menjadi fotografer di perusahaan majalah ‘Maruyama’ milik ayah temanku. Sebelum itu, aku juga iseng-iseng membuat manga online. Tapi tentu saja, aku tidak akan menyerah untuk menjadi “superhero” yang kuimpikan.

***

“Tomoya-kun…” Namanya Maruyama Seiichi. Kami sudah berteman sejak SMP. “Bukankah lebih baik latar untuk bagian ini di tempat yang agak tinggi saja? Mereka sedang menikmati pemandangan langit, agak kaku jika daratannya rendah.” Katanya sambil menggerakkan tombol scroll pada mouse, ke atas dan ke bawah. Pandangannya terpaku pada layar monitor.

“Oh, begitukah?” Sahutku, lalu menoleh ke arahnya. “Aku memang tidak pandai mengarang adegan romantis…”

Sebagai rasa terima kasihku pada Seiichi-kun karena telah diterima di perusahaan ayahnya, aku menawarinya untuk menjadi editorku. Jika mangaku sukses, kami membagi hasilnya berdua. Orang sepertiku pun juga membutuhkan bantuan.

“Setelah ini mau kemana?” Sepertinya ia ingin mengajakku keluar.

“Seperti biasa, kenapa?”

“Tidak, kalau begitu aku akan melanjutkan urusanku.” Oh. Ternyata ia memastikan apakah aku ada acara dengannya atau tidak.

“Mau kubantu?” Dan seperti biasa, aku menawarkan bantuan.

“Tidak perlu, ini urusan pribadi.” Ya sudah, lagipula aku juga perlu menyejukkan pikiranku.

Kemudian ia mulai mengemasi barang-barangnya, menggantungkan tas hitam di pundaknya dan segera menuju pintu keluar.

Well, aku berangkat. Lakukan tugasmu dengan baik.” Nah, sekarang ia berlagak jadi atasan.

“Siap, laksanakan!” Aku pun meladeni lawakannya.

Seiichi-kun memutar gagang pintu dengan tangan kanannya lalu menariknya. Ia mengangkat tangan kirinya dan dilambaikannya karahku. Aku pun membalasnya, lalu ia segera berjalan keluar rumahku.

***

Aku melangkah keluar, hendak menuju duniaku. Ya. Dunia dimana aku bisa meluapkan segala kekesalan dan mendapatkan inspirasi. Dunia yang selalu mengingatkanku pengalaman yang 3 tahun telah berlalu. Sama persis seperti waktu itu, taman yang dikelilingi pohon maple besar.

Aku berjalan hingga menemui bangku, dan menyinggahkan tubuhku di sana. Aku menarik napas panjang, lalu kuhembuskan. Gemericik air sungai menenangkan hati. Keindahan warna dedaunan memanjakan mata. Angin yang berhembus pelan menyegarkan pikiran. Suasana seperti ini sungguh membuatku nyaman.

Tapi, kemudian pandanganku teralihkan oleh seorang gadis sedang berlari kecil seperti terburu-buru, sambil mencari sesuatu di dalam tasnya. Tunggu, apa itu? Gadis itu menjatuhkan sesuatu, namun sepertinya ia tidak menyadarinya.

Aku berlari menuju tempat benda itu tergeletak, bermaksud mengembalikannya. Ternyata sebuah sapu tangan. Untung saja bukan dompet. bisa gawat jika benda seperti itu ditemukan oleh seseorang yang tidak jujur. Ah, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu.

“Tunggu, nona. Anda menjatuhkan ini.”

Lalu seorang gadis yang berparas cantik, menoleh ke arahku dan perlahan mendekat.

“Ah, maaf. Terima kasih, tuan…”

“Tomoya. Suzuki Tomoya.

“Suzuki-san.  Maaf, saya terburu-buru. Sekali lagi, terima kasih.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan, nona…”

“Chikafuji Emika. Anda juga.”

Kemudian, ia melanjutkan langkahnya. Aku penasaran tempat apa yang ia tuju, melewati taman seluas ini.

Setidaknya kini aku bisa mengetahui nama seseorang yang kutemui . Chikafuji Emika, namanya tidak akan kulupakan. Aku tidak ingin mengulang kesalahan seperti 3 tahun lalu.

 

Pada jalan yang ramai, aku melewati orang-orang yang namanya tak kukenal
Semuanya tampak sedang merindukan seseorang yang berharga bagi mereka

 

Tapi, gaya bicara dan senyuman itu… Aku seperti pernah melihatnya.

 


 

Akhir dari episode 1. Seperti biasa, mohon tinggalkan kritik, saran, soshite… request! Arigatou gozaimashita, minasan! ^-^

Advertisements

2 thoughts on “Still… (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s