Still… (3)

Episode 2


 

Aku Chikafuji Emika, 23 tahun.

Impianku adalah menjadi sosok yang dikenal masyarakat luas. Namun sejak kecil, aku selalu tidak percaya diri. Bahkan, keinginanku itu ditentang oleh orang tuaku. Dulu, kakakku yang seorang aktris mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja hingga ia meninggal. Orang tuaku pun khawatir jika hal seperti itu terjadi untuk kedua kalinya. Apalagi karena kebiasaanku yang agak ceroboh.

Karena itu, aku selalu mengalami kesulitan dan kegagalan ketika berusaha menggapai keinginanku. Aku tidak boleh terus begini. Ketika aku mengingat hal itu, aku selalu bertanya-tanya apakah manusia dapat berubah. Aku ingin mengubah diriku. Aku sangat membenci diriku yang sekarang. Ceroboh, tidak percaya diri. Aku tahu itu sulit, dan hal seperti itu mungkin terdengar mustahil jika kucoba mewujudkannya sendiri.

Hingga 3 tahun lalu, aku bertemu seseorang secara tidak sengaja. Seseorang yang membuatku bersungguh-sungguh sejak hari itu. Seseorang yang membuatku sadar bahwa aku pun tak boleh mengecewakan semua orang yang telah berkorban untukku. Sejak hari itu juga, aku berpikir bahwa aku punya segenggam harapan.

Tetapi saat itu, aku melewatkan suatu hal yang begitu sederhana, namun juga begitu penting. Karena malu, atau terlalu memikirkan diri sendiri, aku bahkan tidak menanyai namanya.

Saat ini, aku berprofesi sebagai model. Demi menggapai impianku, aku akan berusaha keras agar mendapat banyak tawaran. Dan juga, tentu saja, penggemar. Walaupun orang tua berkehendak lain, aku akan tetap berjalan.

***

“Gawat, aku hampir terlambat.”

Perusahaan ‘Ikehata’ memintaku untuk mengisi cover depan tabloid terbarunya. Mereka memintaku untuk datang ke studio yang telah ditetapkan hingga pukul 09:00. Tapi, sekarang jam telah menunjukkan pukul 08:34. Dengan segera, aku mengambil ponsel dan menelepon adikku untuk mengantarku.

“Halo? Ryuuto, tolong antar aku ke studio Ikehata sekarang. Aku tergesa-gesa.”

Terlambat lagi? Kakak masih belum berubah juga.” Ia menjawab permintaanku dengan nada meledek. Aku tidak protes, karena aku memang orang yang seperti itu. “Maaf, aku sibuk. Cari taksi saja.”

“Ryuuto…”

“Kalau begitu tunggu aku di persimpangan dekat taman kota.”

Tetap saja aku mencari taksi, tahu. “Terserah kau saja.”

Aku langsung menutup panggilan dan bergegas ke luar rumah.

***

Pintu taksi dibuka, kulangkahkan kaki ke luar. Ternyata masih terlalu cepat. Aku salah melihat jam. Kini aku masih memiliki waktu dua jam sebelum pemotretan. Ah, mungkin aku terlalu mengantuk. Karena itu, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak, menikmati suasana di taman ini.

Ya, taman ini. Taman yang dipenuhi pohon maple favoritku. Taman yang mengingatkanku akan saat-saat 3 tahun lalu itu. Aku berjalan sambil menikmati keindahan di sekeliling dengan perasaan rindu.

Hingga suara pesan masuk dari Ryuuto memecah suasana.

Kalau tidak cepat, akan kutinggal.

Gawat! Aku lupa memberitahu Ryuuto. Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam tas dan segera mencari adikku yang tidak sabaran itu. Semoga saja ia bisa menerimaku dan sedikit bersabar karena memiliki kakak sepertiku.

Ponselku berdering, lagi. Kali ini panggilan masuk. Sambil berlali kecil aku kembali merogoh tasku. Tapi saat aku berhasil menemukannya, ponselku berhenti berdering. “Apa sih, maunya?” Sesuai dugaan, lagi-lagi Ryuuto yang menghubungi.

“Tunggu, nona…” Tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki dari belakangku. “…Anda menjatuhkan ini.” Apakah dia memanggilku? Secara spontan aku menoleh kearah sumber suara. Kulihat seorang laki-laki tampan sedang berdiri sambil memegangi sapu tangan milikku. Bagaimana benda itu bisa berada di tangannya? Apakah tadi terjatuh saat aku sedang mencari ponsel? Ah, bukan saatnya untuk memikirkan hal itu sekarang.

“Ah, maaf. Terima kasih, tuan…” Kataku terputus, bermaksud menanyai namanya.

“Suzuki. Suzuki Tomoya.”

“Suzuki-san. Maaf, saya terburu-buru. Sekali lagi, terima kasih.”

“Sama-sama. Hati-hati di jalan, nona…”

“Chikafuji Emika…“ Tanpa ragu aku juga menyebutkan namaku. “…Anda juga.” Kemudian aku langsung berpindah dari tempat itu.

Aku berhasil. Kali ini, aku bisa menyingkirkan rasa malu-maluku. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin seperti dulu lagi. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti saat itu.

Suzuki Tomoya. Rambutnya dibelah kiri, tubuhnya yang tinggi nan semampai, dan wajahnya yang tampan.

Bahkan rahasia yang telah kusimpan sejak lama, aku bisa menceritakannya hanya padamu
Tak peduli kapan, menceritakan segalanya tentang diriku, masih belum sanggup

Tapi entah mengapa, aura dan tatapan mata itu… Aku seperti pernah melihatnya.

 


Akhir dari episode 2. Masih mengharapkan kritik, saran, dan request. Terima kasih banyak! ^-^ Plis ralat kalau ada kesalahan :v

Advertisements

2 thoughts on “Still… (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s