Still… (4)

Episode 3


 

“Tomoya-kun!” terdengar suara Seiichi-kun dari luar rumahku. Ia berteriak memanggilku dan mengetuk pintu dengan keras. Aku segera berlari menghampirinya.

“Santai saja, ada apa?”

Bukannya menjawab, ia langsung melepas alas kakinya dan melangkah masuk menuju kamarku. Aku pun mengikutinya. “Ada apa sebenarnya?” tanyaku heran melihat tingkahnya.

“Lihat,…” ia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah majalah, tapi sepertinya bukan dari perusahaannya. “…Perusahaan Ikehata mendapat untung besar setelah merilis majalah ini,…” Nada bicaranya terdengar begitu bersemangat. Senyumannya pun begitu lebar. “…dan kau lihat? Cover ini.”

Kemudian aku melihat cover yang dimaksud Seiichi-kun. Ah, bukankah model itu yang kutemui beberapa hari yang lalu? “Siapa nama model ini?”

“Kau tidak kenal? Model yang baru-baru ini muncul, Chikafuji Emika. Aku adalah salah satu penggemarnya.” Ah…, pantas saja aku seperti pernah melihatnya, ternyata ia seorang model. Jika aku bercerita pada Seiichi-kun bahwa aku baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, entah apa reaksi yang akan ia keluarkan. Mungkin ia akan membunuhku.

“Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengannya di taman kota.”

Sekilas matanya terbelalak, lalu ia menoleh ke arahku. “Bohong”

“Sungguh.” kataku, berusaha meyakinkan.

“Curang!” wah, sepertinya ia benar-benar akan membunuhku. “Kau harus membawaku menemuinya.”

“Tapi itu hanya kebetulan…”

“Sering-seringlah ke taman kota,…” ia memotong pembicaraanku. “…lalu jika kau bertemu dengannya lagi, katakan kalau aku ingin menemuinya. Siapa tahu, kan?”

“Kenapa tidak kau…” tunggu. Aku akan membantunya. Benar, aku akan membantu Seiichi-kun. “Baiklah.”

“Terima kasih banyak.”

***

Sudah seminggu semenjak aku membantu Seiichi-kun menemui Chikafuji-san, namun ia tidak muncul juga di tempat ini. Tentu saja, ada banyak sekali tempat di kota ini yang bisa dikunjungi. Kemungkinannya satu berbanding dua ratus untuk bertemu dengannya di taman kota.

Aku duduk di bangku yang biasa kutempati, dan menggoreskan segala ide-ide yang kudapat di atas kertas putih dan tebal.

“Suzuki-san…” tiba-tiba saja suara seseorang menyebut namaku. Seketika aku menghentikan aktivitasku, lalu memalingkan wajah ke arah sumber suara. Kulihat seorang gadis cantik, berambut hitam nan panjang, dan bertubuh ramping, sedang berdiri di hadapanku.

“Kita bertemu lagi.”

 

Jika kau menutup pintu, maka segalanya tampak akan berakhir begitu saja
Hari-hari berlalu dengan cepat karena aku tak bisa dengan mudahnya menjadi seorang yang jujur

“Ah, Chikafuji-san.” kebetulan sekali, atau memang firasat Seiichi-kun yang benar.  Aku menyingkirkan tasku ke sisi lain, bermaksud memberinya singgahan. Jika sebelum ini aku menyerah, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. “Silakan.”

“Terima kasih.” ia kemudian duduk di sampingku, lalu merapikan pakaiannya dan menyibakkan rambutnya yang panjang.

“Sungguh suatu kebetulan, bertemu di tempat ini lagi.” saat berbicara, suaranya terdengar begitu lembut. Aku hanya mengangguk menanggapinya. Kini giliranku angkat bicara.

“Berkunjung ke tempat seperti ini, Anda memiliki beberapa waktu luang?”

“Begitulah, saya selalu ke sini saat waktu luang untuk refreshing.” ‘selalu’? Pantas aja.

“Oh, saya juga. Untuk mencari inspirasi dan memotret hal-hal menyenangkan di sini.”

“Anda suka fotografi?”

“Fotografer, lebih tepatnya. Bekerja untuk Maruyama.”

“Oh…, perusahaan itu.”

“Benar.”

Setelah itu suasana berubah menjadi canggung. Karena itu, aku kembali membuka sketchbook, untuk meneruskan karyaku.

“Ah, indah sekali.” tiba-tiba Chikafuji-san mengeluarkan suaranya, membuatku menoleh ke arahnya. Matanya tertuju pada sketchbook milikku. Tampaknya ia sedang memuji lukisan buatanku. “Kalau begitu, maukah Anda melukisku? Saya terpesona oleh lukisan Anda.”

“Saya tidak pandai dalam menggambar objek bergerak.” walaupun aku ingin.

“Jika demikian, mungkin Anda ingin memotret lebih dulu, kalau Anda berpikir itu menyenangkan.”

Hm… Hal itu boleh dicoba. “Ide cemerlang, Chikafuji-san.” Aku membuka tasku, lalu mengambil kamera. Kemudian aku berdiri di depan Chikafuji-san untuk mengambil gambar dirinya. Aku bisa melihat senyumannya yang begitu manis melalui lensa kamera. Sungguh mempesona.

 


Akhir dari episode 3. Terima kasih sudah mau membaca. Tambahan, mungkin selama beberapa hari ke depan (termasuk hari ini), cerbungnya bakal dipublikasi lebih cepat karena tanggal 2 Mei nanti, sekolah gw akan mengadakan karya wisata ke Bali. Jadi selama periode itu, Watashi no Sekai off dulu selama kurang lebih 5 hari.

Sekian, jaa ne~! 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Still… (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s