Still… (5)

Episode 4


 

“Wah, Anda berbakat.” ucapku, memuji hasil gambar yang telah dipotret oleh Suzuki-san.

“Diri Anda-lah yang membuat foto ini terlihat sempurna.”

“Anda terlalu berlebihan.” Baru kali ini aku dipuji oleh kata-kata manis seperti itu. Bahkan orang tuaku tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun yang bisa membuatku bersemangat untuk melangkah maju. Teman-teman, para penggemar, rekan-rekan, dan Ryuuto-lah yang ada di sisiku dan selalu mendukungku.

“Saya akan melukisnya saat ada waktu.”

“Ah, maafkan. Saya malah merepotkan.”

“Tidak, saya justru senang. Belum pernah ada yang meminta saya untuk menciptakan sebuah karya sebelumnya.” Suzuki-san tersenyum lembut. Dari wajahnya terlihat sekali bahwa ia gembira. Syukurlah.

“Chikafuji-san…,” tiba-tiba Suzuki-san menyebut namaku. Kali ini ia seperti menyadari suatu hal. “…teman saya ingin bertemu dengan Anda. Jika punya waktu, maukah Anda menemuinya?”

“Hmm…, kalau begitu, mungkin sekarang masih sempat…”

***

“Saya adalah penggemar Anda. Nama saya Maruyama Seiichi. Senang bertemu dengan Anda.” ia memperkenalkan dirinya sembari tersenyum padaku, kemudian membungkukkan badannya. “Chikafuji Emika. Senang bertemu Anda juga. Mohon bantuannya.”

Seperti yang telah dikatakan Suzuki-san, ayah Seiichi-san adalah orang yang memiliki perusahaan ternama ‘Maruyama’. Wah, seorang anak dari pemilik perusahaan besar, adalah penggemar dari seorang model yang baru belajar ini. Aku sangat gembira mendengarnya.

Di sebuah cafe, kami duduk bertiga. Hanya ada sedikit orang di sekitar. Seiichi-san memesan kopi untuk kami. Secangkir espresso kesukaanku dan dua cangkir cappuccino, menemani kami siang hari.

“Saya ingin mengobrol sedikit dengan Anda. Apakah Anda memiliki waktu sebentar saja?”

“Tentu. Silakan.” jawabku, kemudian meminum seteguk espresso.

“Sebenarnya…”

***

Seiichi-san dan Suzuki-san melaju dengan mobil berwarna merah dan melambaikan tangan mereka ke arahku setelah kami keluar dari cafe, aku pun membalas salam mereka dengan kembali melambaikan tangan. Seiichi-san memang telah menawariku tumpangan, namun aku menolak karena aku masih memiliki tempat yang harus kukunjungi bersama Ryuuto.

Soal percakapanku dengan Seiichi-san, perusahaan ‘Maruyama’ menginginkanku untuk menjadi model utama majalah fashion mereka, dengan edisi terbatas. Tentu saja kesempatan ini tidak boleh kulewatkan. Siapa tahu ini bisa menjadi penentuan karirku.

 

Bertemu kesulitan, memahaminya secara bertahap
Menangis dengan keras ketika musim mulai mendekat

 

Aku beranggapan bahwa inilah harapanku, kehidupanku yang sebenarnya dimulai dari sini. Aku adalah orang yang bisa berdiri di puncak, akan kubuktikan pada dunia. Akan kubuktikan juga… padanya.

 


Tadaima! Akhirnya gw balik lagi setelah seminggu lamanya :’v bagi yang penasaran sama karya wisata ke Bali gw akan diinformasikan di post berikutnya 🙂

Akhir dari episode 4. Kayaknya episode kali ini (sangat) pendek, ne~ Oh ya, mungkin sebagian dari kalian beranggapan kalau Seiichi nantinya akan jatuh cinta sama Emika, tapi itu salah, minasan~ Sebenarnya Seiichi menemui Emika karena dia juga nggak ingin melewatkan kesempatan bertemu idolanya, dan juga menawarinya pekerjaan agar perusahaan ayahnya mengalami peningkatan kesuksesan, mumpung si Emika ini lagi naik daun, hehe…

Makasih udah mau baca ^-^ Silakan berkomentar berupa kritik, saran, request, atau lainnya. Onegaishimasu!

Advertisements

3 thoughts on “Still… (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s