Still… (7)

Episode 6


Aku duduk di salah satu kursi di Brooklyn Parlor, cafe ala New York yang berada di Shinjuku. Ya, cafe yang biasa kukunjungi bersama Seiichi-kun dan Emika-san. Menikmati secangkir kopi sambil membaca buku dan mendengarkan alunan musik yang merdu, tempat ini membuat pengunjungnya serasa di Amerika.

Tujuanku yang sebenarnya adalah menunggu kehadiran Emika-san yang baru saja menghubungiku meminta bertemu di cafe ini setelah sekitar tiga hari ia mengalami insiden itu. Sambil membaca buku “The Hound of Death” karya Agatha Christie, aku menunggu dengan sabar.

Kemudian terdengar suara pintu cafe dibuka. Tampaklah Emika-san masuk sambil melihat ke arah tempatku menunggu. Ia segera mendekat dan langsung duduk di kursi yang berada di depanku.

“Tolong secangkir espresso… Dingin.” Katanya sedikit berteriak pada pelayan cafe, sambil mengangkat tangan kanannya. Espresso dingin? Tidak seperti biasanya.

“Merasa lebih baik?” Aku mulai angkat bicara. Emika-san hanya tersenyum dan mengangguk. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan.

Beberapa detik kemudian, pesanan Emika-san datang. Ia langsung meneguk minuman favoritnya.

“Apa ada sesuatu yang terjadi?” Aku kembali bertanya. Setelah itu ia meletakkan cangkir di atas meja. Tiba-tiba, Emika-san mengeluarkan air mata. Melihatnya menangis tanpa sebab, membuatku sedikit terkejut sekaligus bingung.

“Mereka mengetahuinya.”

“Siapa?”

“Orang tuaku melihat berita, kecelakaan itu. Lalu mereka bilang semua hal buruk tentangku. Aku mirip kakakku, ceroboh, dan tidak dapat diandalkan. Aku tidak bisa menjadi model. Semua hal yang kulakukan hanyalah sia-sia belaka. Sekiranya itulah yang mereka pikirkan. Mereka tahu semua ini akan terjadi.”

Sudah kuduga. Penghalang seperti ini harus segera disingkirkan dari jalan Emika-san. Jika tidak, maka jalannya akan berlubang. Jika jalannya berlubang, maka Emika-san tidak bisa melewatinya. Jika Emika-san tidak bisa melewatinya, maka ia tak akan pernah sampai ke tempat tujuan.

“Tomoya-kun…” Emika-san memanggilku dengan suaranya yang terdengar terisak, “Apakah menurutmu manusia bisa berubah?”

Ini dia. Pertanyaan yang jawabannya tidak dapat kupastikan.

“Semua manusia bervariasi, Emika-san.” Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. “Tapi bagaimana denganmu? Apakah kau tipe orang yang bisa berubah?”

“Aku tidak tahu, itu sebabnya aku bertanya padamu.”

“Masalahnya, kata yang tepat bukanlah ‘bisa’, tetapi ‘ingin’. Manusia tidak akan ‘bisa’ berubah jika mereka tidak ‘ingin’, tetapi jika mereka ‘ingin’, maka akan ada peluang lebih besar untuk ‘bisa’ berubah.”

Entah dari mana kata-kataku barusan. Mereka selalu keluar menurut kehendak mereka. Tapi memang, hanya ini yang bisa kulakukan. “Jadi, apakah kau tipe orang yang ‘ingin’ berubah?”

“Ya… kurasa aku tipe orang seperti itu.”

“Dengan usaha yang sedikit demi sedikit kau tumpuk, maka kau akan mendapatkan keinginanmu.”

Emika-san mengusap air mata menggunakan sapu tangannya. Ia sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Kau hanya perlu menunjukkan pada orang tuamu bahwa kau bisa mengatasi masalah ‘perubahan’ ini, maka semuanya akan berjalan lancar.” Kataku mantap.

“Tomoya-kun. Bagaimana kau bisa setenang ini? Dari dulu, kau selalu bisa membuatku berpikir positif.”

Ah… ya. Itu juga aku tidak bisa memastikannya. Karena keinginanku untuk membantu orang lain, mungkin? Atau… pengalaman?

Pengalaman? Mungkin…

“Emika-san… Boleh aku bercerita sedikit?”

“Tentu saja. Tidak perlu meminta izin, kan?”

“Tiga tahun lalu di taman kota, aku bertemu gadis yang sedang menghadapi masalah. Katanya, ia tidak punya tujuan dan tidak ditakdirkan untuk mendapat kesuksesan. Dia tampak begitu putus asa. Tapi, aku mengingatkanya. Semua orang ditakdirkan untuk memiliki masa depan yang cerah. Hanya saja, itu tidak mudah. Ada yang putus asa, ada juga yang mau berusaha. Dan hal itu akan didapat bagi orang yang berjuang hingga akhir.”

Aku menarik napas panjang, dan kuhembuskan. “Mungkin sejak itulah aku terus ingin seperti ini. Aku hanya ingin orang sepertinya terus menatap ke depan. Emika-san, kau… Mengingatkanku padanya. Kau sungguh mirip dengannya.”

Emika-san memandangku dengan tatapan penuh arti. Lalu, ia mulai menanyakan sesuatu. “Tunggu. Setelah itu, apa yang terjadi?”

“Setelah itu kami berpisah, tanpa tahu nama satu sama lain. Aku benar-benar menyesal, perasaan itu tidak bisa kulupakan. Aku selalu berharap bisa bertemu lagi dengannya, seperti yang ia katakan. Tapi kedengarannya itu mustahil, ya?”

“Apa yang dikatakannya?”

“”Kita akan bertemu suatu hari nanti,” kira-kira begitu.”

Ekspresi wajah Emika-san mengatakan kalau ia memikirkan sesuatu. Sepertinya ia sangat tertarik pada ceritaku.

“Tomoya-kun…” Katanya memanggilku, sambil sedikit membungkukkan badannya. “Apa kau tahu… hal yang disukainya?”

Hal yang disukai? Hmm… Ya, sepertinya aku mengetahuinya. Tapi, mengapa ia bertanya sampai ke sana? Yah, aku hanya perlu menjawabnya.

“Musim gugur, kurasa”

Emika-san kembali menegakkan badannya. Tapi entah kenapa, raut wajahnya terlihat sedikit terkejut ketika aku selesai bercerita.

“Memangnya ada apa?”

Hening. Emika-san diam saja setelah aku melontarkan pertanyaan. Ia tampak melamun.

“Emika-san?”

“Ah, tidak apa.” Sepertinya ia sudah sadar. “Ano, sebenarnya masih ada urusanku yang belum selesai. Bolehkah aku permisi dulu?”

Mendadak? “Ya, tentu.”

Kemudian Emika-san mulai mengemasi barangnya, membayar pesanannya dan kemudian pamit. Ia melangkah menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan memanggilku. “Tomoya-kun…”

“Ya?”

Emika-san mengalihkan pandangannya ke arahku. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Hari itu, kupikir kau mencoba mengatakan sesuatu padaku…”

Bahkan jika kukatakan padamu, itu sudah tak penting lagi

“Apa?”

“Ah, tidak.”

***

Sudah sekitar satu bulan lamanya aku dan Emika-san tidak bertemu semenjak kami bersama di cafe Brooklyn Parlor. Aku juga tidak dapat menghubunginya. Aku mengunjungi rumahnya, tapi sepertinya ia tidak sering berada di rumah. Aku mengunjungi ke tempat yang biasa dikunjunginya, tapi sia-sia. Aku jadi khawatir memikirkannya. Semoga hal buruk tidak terjadi padanya. Ditambah lagi, kata-kata yang terakhir kudengar darinya membuatku tak bisa tidur semalam. Apa sebenarnya maksud Emika-san?

Ah, ponselku berbunyi. Panggilan masuk. Dari Emika-san? Akhirnya setelah sekian lama ia menghubungiku juga.

“Halo? Emika-san? Kemana saja kau? Aku mencemaskanmu.”

“Ah, maaf, Tomoya-kun. Mengenai itu, bagaimana kalau kita bicarakan di Brooklyn Parlor?”

“Baiklah.”

***

“Tomoya-kun, tebak!”

Ah… Ia tampak begitu bersemangat. Ternyata hal baiklah yang datang padanya. Syukurlah.

“Um… Entahlah. Memangnya ada apa?”

“Aku diterima bekerja di London!”

“Benarkah!? Itu sangat mengejutkan.” Jujur saja, aku ikut bahagia mendengarnya. Usaha yang selama ini dikejarnya, membuahkan hasil. Aku sudah bilang padamu, Emika-san. Kau bisa berubah jika kau menginginkan perubahan. “Selamat, kau memang hebat.”

“Kau benar, Tomoya-kun. Akhirnya orang tuaku mau mengerti. Akhirnya aku bisa mendapat apa yang kukejar. Tapi, mungkin aku akan berada di sana selama beberapa tahun.”

Aku tidak mengerti, raut wajahnya yang gembira makin lama makin memudar. “Bukankah itu bagus?”

“Tomoya-kun, bukankah itu artinya… Kita akan berpisah?”

“Apa yang kau bicarakan? Kita akan bertemu lagi bukan?”

“Sebenarnya, yang membuatku bisa berusaha sampai sejauh ini adalah dirimu. Selama ini, aku tidak bisa melakukan usahaku sendiri tanpamu. Aku takut jika nantinya kau tidak ada di sana bersamaku, dan aku akan mengalami hal yang sama seperti dulu lagi.” Aku benar-benar tidak mengerti. Pencapaiannya sudah sampai sejauh ini, namun ia justru terlihat sedih. Air mata membasahi pipinya.

“Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Kau sudah sampai sejauh ini, kau pasti…”

“Tomoya-kun!”

Aku tersentak. Dia memotong pembicaraanku. Nada bicaranya meninggi, tidak seperti biasanya. Aku benar-benar tidak mengerti.

“Tomoya-kun. Aku tidak ingin berpisah… untuk yang kedua kalinya.”

“Suatu hari nanti…” Teringat olehku sebuah ucapan darimu yang terdengar mudah terlupakan
Di suatu jalan, angin yang dapat memanggil musim berthenti bertiup
Lalu aku tersadar berkat suaramu dan melanjutkan hidupku seperti biasa
Segalanya tampak bersinar semenjak hari itu

***

Kini, aku mengerti. Aku mengerti segala sesuatu yang telah kualami. Perasaan aneh yang menggangguku ketika bersama Emika-san, aku mengetahuinya sekarang. Bagaimana? Bagaimana aku bisa melupakannya? Sifat itu, wajah itu, senyuman itu… Mengapa aku bisa lupa?

Gadis yang kutemui 3 tahun lalu, selama ini selalu di sisiku, menemaniku, dan mewarnai hidupku. Kini gadis itu sedikit demi sedikit menuju kesuksesannya. Namun lebih dari itu, ia tidak ingin berpisah dariku. Kemudian aku mengingatkannya, lagi. Untuk mencapai apa yang benar-benar kau impikan, meninggalkan perasaan yang paling dalam mungkin saja dibutuhkan. Sama sepertiku, demi Emika-san, aku rela melepaskan tangannya agar mimpinya dan mimpiku benar-benar terpenuhi. Maka dari itu, Emika-san… Kau juga harus melepaskan genggamanmu. Untuk saat ini, mari kita berjalan di jalan kita masing-masing. Hingga suatu hari nanti kita menemukan satu jalan dengan cahaya paling terang.

Kau adalah kau, lukislah mimpimu sebesar mungkin
Aku akan berdoa demi kesuksesanmu, dari sini

“Jika aku hanya menunggu, maka tak akan ada hari esok
Karena tak ada apapun yang akan dimulai jika terus berdiam di sini”

Walau jalan gelap yang sebelumya tak dapat kulihat
Walau itu jalan memutar sekalipun
Sekarang, untuk sementara
Marilah kita berdua saling meninggalkan rasa sakit kita

Ini bukanlah perpisahan, melainkan pertemuan dari awal yang baru
Namun aku sangat ingin bertemu denganmu
Masih…
Suatu hari nanti kita akan bertemu dan tertawa

Ya, pasti

 


Minasan, maaf ya. Terasa lama? Ya. Ternyata aku masih belum bisa memahami apa masalah yang sedang kualami. Sebenarnya, Still seri ke 7 ini sudah dipublikasi beberapa hari yang lalu. Tapi karena tanggalnya menunjukkan tanggal 17 Mei (padahal dipublikasi tanggal setelahnya) jadinya… dipublikasi ulang (seperti yang kulakukan pada  2 seri Still… sebelumnya).

Tapi untungnya cerita ini sebentar lagi akan selesai ^-^ jadi nggak sabar mau publish seri terakhir >_< Oke, tunggu aja ya minna!

Advertisements

2 thoughts on “Still… (7)

  1. Klo uploadnya via handphone harus langsung dipublikasikan (menggunakan wp versi terbaru). Karena jika tidak demukian, tanggal terbitnya merupakan tanggal pertama kali kita ngesave draftnya. Saya juga baru sadar beberapa hari yang lalu.

    Ternyata kisahnya masih panjang. Kirain setelah saling mengetahui, trus jatuh cinta dan tamat ha ha ha……

    Liked by 1 person

    • Iya gan, saya juga baru tahu. Tapi kalo saya di pc juga sama saja, krn awalnya saya dpt masalah ini waktu mau publikasi lewat pc
      Nggak lama, sebentar lagi episode terakhir kok 😂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s