Still… (8)

Epilogue


Aku menamai mereka Sora, yang berarti “langit” dan Hoshi yang berarti “bintang”. Sora adalah laki-laki baik yang suka menolong, tapi di samping itu ia juga ingin menjadi novelis berbakat. Hoshi adalah gadis imut yang memiliki impian besar, namun kadang ia bersikap pesimis.

Sora dan Hoshi adalah dua manusia yang tidak saling mengenal. Kesamaan mereka adalah, memiliki masalah yang tidak dapat terselesaikan jika hanya seorang diri. Tetapi, akhirnya mereka berdua bertemu, dan saling bertukar pikiran. Semenjak itu, mereka menjalin hubungan yang erat. Mereka mencurahkan isi hati dan pikiran, kemudian sedikit demi sedikit beban mereka terasa ringan berkat kepedulian mereka satu sama lain. Hoshi yang selalu diberi semangat dan dorongan oleh Sora, dan Sora yang suka dengan sifat Hoshi sehingga secara tak langsung memberi inspirasi untuk menciptakan tokoh dalam novelnya.

Di saat mereka mau terbuka dan saling percaya, mereka bisa mengerti dan menerima kehadiran satu sama lain dalam hidup mereka, yang membuat mereka merasa memiliki harta yang tak ternilai harganya. Mereka sadar mereka tidak sendirian sehingga mereka ingin melakukan yang terbaik, dan mendoakan yang terbaik demi orang yang mereka cintai.

Lalu di suatu malam, Sora dan Hoshi memandang jauh ke langit. Saat itu, Sora mengatakan sesuatu, sebuah kalimat yang membuat Hoshi menyadari arti dari kehadiran sosok Sora yang sebenarnya dalam kehidupan Hoshi.

“Karena langit tak akan pernah terlihat indah tanpa adanya bintang, maukah kau menjadi bintangku selalu?”

Hoshi tersenyum begitu lembut. Ia meneteskan air mata bahagia sembari menjawab,

“Karena bintang tak akan pernah bersinar terang tanpa adanya langit, maka jadilah langitku selalu.”

Sejak hari itu, Sora dan Hoshi berusaha menepati janji mereka untuk saling menggenggam tangan satu sama lain selalu dan selamanya.

***

4 tahun kemudian

Namaku Suzuki Tomoya, 28 tahun.

Beginilah kehidupanku yang sekarang. Aku menjadi populer semenjak merilis mangaku dengan judul “The Starless Sky“, dan diriku dikenal masyarakat luas sebagai mangaka yang berpengaruh. Aku bersyukur karena kehidupanku kini lebih baik dibandingkan yang sebelumnya. Walau begitu, aku lebih suka kehidupanku yang lama. Aku bisa dekat dengan orang-orang dan membantu mereka. Aku bisa memberi dorongan bagi siapapun yang membutuhkan bantuan. Namun kini terasa hampa. Aku merasa kesepian karena teman-temanku pun memiliki kehidupan mereka sendiri. Rasanya sesuatu menghilang dari kehidupanku.

***

Aku melangkah keluar, menuju duniaku. Ya, dunia dimana aku bisa meluapkan segala kekesalan dan mendapat inspirasi. Dunia yang selalu membawaku kembali pada ingatan saat-saat bersama orang yang kucintai. Sama persis seperti waktu itu, taman ini dikelilingi oleh pohon maple, pohon kesukaanku.

Aku berjalan hingga menemui seorang pria yang berusia sekitar 60 tahun sedang duduk di bangku yang biasa kutempati. Sepertinya ia sedang memperhatikan daun-daun pepohonan yang berjatuhan. Karena suatu alasan, aku mendekat.

“Boleh saya duduk?” Ia melihatku, lalu menganggukkan kepalanya.

“Tidak akan ada yang melarang.” Perlahan aku duduk disampingnya, ikut menyaksikan Momiji yang jatuh dan perlahan membentuk bukit.

“Sendirian? Sedang apa di tempat ini?” Tiba-tiba pria itu membuka topik pembicaraan.

“Iya, itu…” Dengan sedikit keberanian, aku menjawab, “…saya hanya sedang mengobati rasa rindu.”

“Ah…sedang merindukan seseorang rupanya. Apa kau mencintai orang itu?”

Aku mengangguk lalu menjawab pelan, “Sangat…”

Setelah aku menjawab, dengan anehnya pria ini tiba-tiba tertawa. Lalu ia menghentikan tawanya, dan melihatku, “Hidupmu pasti berwarna, merindukannya sampai seperti itu.” Senyumannya yang begitu lebar membuatku penasaran.

“Bagaimana dengan Anda?” tanyaku

“Sama sepertimu, aku di sini untuk mengobati rasa rinduku.”

“Anda merindukan seseorang?” Aku kembali bertanya, mencoba memuaskan rasa penasaran.

“Ya. Dia istriku.” katanya, sembari menatap langit yang cerah saat ini.

“Ah… Memangnya, dimana beliau berada?”

Pria itu menoleh ke arahku, tapi kemudian ia meluruskan pandangannya. Setelah menarik nafas panjang disusul hembusan yang panjang pula, ia kembali memandang langit dengan tatapan penuh makna.

“Dia di atas sana, sedang mengawasiku di dunia yang tak terjangkau.”

Aku tersentak. Aku merasa bersalah sudah menanyakan hal yang membuatnya mengingat hal buruk. Entah apa yang kurasakan dan kupikirkan saat ini, namun pria itu tidak terlihat bersedih bahkan setelah menceritakan perasaannya.

“Ah, maaf. Saya…”

“Tidak, tidak…” Ia memotong pembicaraanku. “Kau boleh menganggapku aneh, tapi jika ada seseorang yang sedang merasakan apa yang sedang kurasakan, aku bisa menjadi lebih tenang.” Merasakan apa yang ia rasakan? Merindukan seseorangkah maksudnya?

“Dia, Manami-chan… Kami bertemu secara kebetulan di taman ini. Saat itu hujan deras, dan ia sedang berteduh di salah satu pohon maple. Lalu aku yang membawa mobil menawarinya tumpangan dan mengantarkannya pulang. Semenjak itu, kami menjadi begitu dekat…”

Aku mendengarkannya dengan seksama. Mendengarkan kisah orang lain juga membuatku merasa tenang. Aku menunggunya melanjutkan cerita dengan sabar.

“Tiga tahun kemudian kami menikah, dan dikaruniai dua buah hati yang lucu. Namun, empat tahun lalu… sebuah mobil menghantam tubuhnya yang lemah, dan meninggalkan kami bertiga begitu saja…”

Kisahnya tentu membuatku iba. Mereka akhirnya menemukan belahan jiwa dan seharusnya bisa hidup bersama…

Tapi empat tahun lalu? Itu berarti tahun yang sama saat terakhir kali aku melihat Emi-san. Dan pertemuannya dengan Manami-san yang tidak sengaja di sebuah taman… itu pun mirip dengan kisahku. Pria itu mengingatkanku tentang kehidupanku sendiri.

“Walau dia telah tiada, aku selalu percaya bahwa kami saling terhubung. Setiap kali aku pergi ke tempat ini untuk mengenang saat-saat bersamanya, aku selalu merasa lega. Terlebih jika ada orang sepertimu, membuatku merasakan kehadiran Manami-chan.”

Ia kembali tersenyum lebar. Ia tampak lega, seperti… Rasa rindu yang terobati.

“Ah, ngomong-ngomong,” Ia memalingkan kepala dan tubuhnya ke arahku. “… namaku Oda.”

“Tomoya.” Jawabku sambil tersenyum.

“Tomoya-kun. Apa kau juga ingin berbagi kisah cintamu?”

“Ah… tidak, terima kasih. Saya terlalu malu.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku mohon pamit sekarang. Terima kasih atas waktunya, aku menikmati pembicaraan kita tadi.”

“Sama-sama, Oda-san. Saya senang bisa membantu.” Ia bangkit berdiri dan mengambil barang bawaannya.

“Semoga harimu menyenangkan.”

“Anda juga.” Oda-san mulai berjalan, semakin menjauh. Ah… bahkan dari belakang terlihat sekali bahwa ia seorang yang tegar.

Mendengarnya bercerita tentang kehidupannya, ia telah mengajariku suatu hal, sebuah hal yang amat penting dan jangan sampai terlupakan. Jika aku bertemu Emi-san kembali, aku akan selalu di sisinya. Aku akan selalu menjaganya dengan segenap hati, sehingga aku tak akan menyesal pada akhirnya, seperti yang dialami Oda-san.

Tetapi setelah Oda-san pergi, aku sendirian. Tidak ada seorang pun yang bisa kuajak berbicara. Aku kesepian. Seandainya Emi-san di sini… Tidak, seandainya Emi-san di sampingku saat ini…

Ketika aku meminggul berbagai macam hal yang rasanya seperti akan tumbang, ku ingat saat itu
Kita selalu terhubung, karena tangan itu bukanlah omong kosong belaka
Hari-hari yang tak bisa terulang itu berharga, namun hari esok juga menunggu kita
Kita masih bisa pergi kemana pun

Untuk mengatasi rasa kesepianku, aku mengeluarkan sketchbook yang sudah lama kusimpan dan berniat menggores kertas polos nan putih dengan berbagai coretan. Kubuka halaman lembar demi lembar. Lalu, mataku tertuju pada selembar kertas yang kuselipkan di buku itu.

Empat tahun lalu, Emi-san memintaku untuk membuatkan sebuah lukisan potret dirinya. Lalu, aku pun berjanji padanya untuk membuatnya saat waktu luang, dan akan memberikan hasil jadinya. Namun karena terlalu sibuk, atau terlalu memikirkan diri sendiri, aku melupakan janjiku untuk menyelesaikannya.

Aku mengambil sebatang pensil. Kucoba menyelesaikan lukisan Emi-san dengan latar belakang pohon maple itu.

Namun… mengapa ini? Mengapa tanganku tidak mau bergerak sedikitpun? Air mata megalir membasahi pipiku. Belum pernah aku merasa sesedih ini. Kedua tanganku memegang erat kertas itu. Emika-san… Apakah kau merasakan hal yang sama sepertiku? Karena aku… sangat merindukanmu.

“Tomoya-kun…”

Tiba-tiba terdengar suara. Suara yang begitu pelan, dan… familiar, menyebut namaku. Aku memalingkan kepala ke arah sumber suara.

Untuk yang kedua kalinya, aku melihat sosok itu.

Sosok yang memiliki impian besar. Sosok yang tidak bisa tenang jika sendirian. Sosok yang… membuat hidupku penuh warna.

“Kita bertemu lagi.”

Mungkin, waktu itu  kita mulai berjalan
Masing-masing di jalan kita yang berbeda
Hingga suatu saat nanti kita mengerti alasan kita berdua bertemu
Ketika roda mulai berputar, maka perjalanan pun benar-benar dimulai
Sehingga aku tak akan tersesat lagi, aku akan berpegang lembut pada masa laluku

“Selamat datang kembali.”


Otsukare~ >_< akhirnya cerita ini selesai juga ^o^ gimana menurut minasan? Tentu masih ada banyak perbaikan, ne~ Kalau menurut pendapatku, ini nih kekurangannya:

  • Jalan cerita dan penyelesaian masih terlalu sederhana
  • Melupakan karakter pembantu yang berperan di sini: Ryuuto dan Seiichi hanya muncul sebelum Emika dan Tomoya akrab
  • Terlalu banyak lompatan waktu, jadi terkesan lebih cepat
  • Karakter Tomoya yang tenang berubah ketika di epilog ini dia sangat merindukan Emika, dan akhirnya nggak bisa membendung air matanya lebih lama :v
  • Di episode 6 Tomoya terlihat terlalu bodoh untuk menyadari bahwa Emika adalah gadis yang ditemuinya 3 tahun lalu 😂
  • Dan of course: bahasa

Wah banyak ya :v

Kelebihannya sih, nggak bisa nyebutin :v mungkin minasan bisa menemukan kelebihan dari cerita tadi? Atau menemukan kekurangan lainnya? Hehe…

Ngomong-ngomong gambar di atas tadi gambar sendiri loh :3 apa sudah tampak seperti gambar seorang mangaka? :v *ngarep

Sebenarnya ada arti di balik gambar itu lho, minasan… Di gambar itu tampak sekali bahwa Tomoya dan Emika duduk saling membelakangi. Tapi sebenarnya, mereka duduk di bangku yang sama 😂 hanya saja ngambilnya dari sudut pandang yang berbeda. Jadi yang mau neko sampaikan adalah, mereka saling menunggu kehadiran satu sama lain tanpa menyadari bahwa mereka saling berdekatan :v

Bagi yang penasaran sama lagunya, bisa dilihat di sini, kalau mau lihat translationnya di sini –> *bukan hasil kerjaan nekochan (ya sebenarnya penggalan lagu yang aku pakai di cerita itu sudah termasuk translationnya sih)

Btw, selama sekitar 2 minggu neko vakum dulu karena ada ukk 😂 gomen ya minasan…

Nah, sekian ^-^ rencana sih mau bikin cerbung lagi dengan tema horror :3 tapi ditunggu aja yah siapa tahu kesampaian 😀 jaa ne~

Advertisements

17 thoughts on “Still… (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s